Perempuan Jadi Garda Depan Saat Bencana, Balai Syura dan Flower Aceh Dorong Penguatan Agensi dalam Pemulihan

Banda Aceh, 16 Juli 2026 — Perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling aktif merespons bencana, mulai dari mengurus kebutuhan keluarga, mengelola dapur umum, membantu evakuasi hingga menjadi relawan bagi penyintas lainnya. Namun, ketika situasi memasuki tahap pemulihan dan rehabilitasi-rekonstruksi, keterlibatan perempuan justru cenderung menurun dan suara mereka semakin jarang hadir dalam pengambilan keputusan.

Situasi tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Tematik Perempuan Aceh: “Penguatan Agensi Perempuan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pengurangan Risiko Bencana”, yang digelar Balai Syura Ureung Inong Aceh bersama Flower Aceh, Kamis (16/7/2026), di Banda Aceh.

Rakor mempertemukan organisasi perempuan, simpul Balai Syura, lembaga layanan, akademisi, organisasi masyarakat sipil dan relawan untuk berbagi pengalaman, temuan lapangan serta merumuskan strategi bersama dalam memperkuat peran perempuan dalam menghadapi bencana.

Direktur Flower Aceh, Riswati, menyampaikan bahwa pengalaman penanganan bencana menunjukkan perempuan tidak hanya menjadi penyintas, tetapi juga menjadi aktor penting dalam merespons dan memulihkan kondisi komunitas. Namun, berbagai persoalan masih dihadapi, mulai dari meningkatnya beban kerja perawatan, keterbatasan fasilitas dasar, hunian yang tidak layak, kehilangan mata pencaharian, hingga meningkatnya risiko kekerasan berbasis gender.

Hasil asesmen Flower Aceh juga menemukan bahwa dalam situasi bencana perempuan banyak mengambil peran dalam evakuasi, dapur umum dan koordinasi di tingkat komunitas. Namun, ketika memasuki forum pengambilan keputusan pada tahap pemulihan, keterlibatan tersebut mulai berkurang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan agensi perempuan tidak cukup hanya dengan melibatkan perempuan saat tanggap darurat. Perempuan perlu memiliki ruang dan posisi yang bermakna dalam perencanaan, pengambilan keputusan, pemulihan hingga pengurangan risiko bencana.

Dari Respons Spontan Menuju Sistem yang Lebih Kuat

Dalam Rakor, berbagai simpul Balai Syura membagikan praktik yang telah dilakukan di komunitas. Mulai dari sosialisasi mitigasi bencana, penyediaan tas siaga bencana, pengelolaan pangan, pemilahan sampah, dukungan psikososial, pemberdayaan perempuan hingga penggalangan bantuan di sejumlah wilayah terdampak.

Pengalaman tersebut menunjukkan kuatnya inisiatif perempuan di tingkat akar rumput. Namun, kerja-kerja yang selama ini banyak dilakukan secara spontan perlu diperkuat menjadi sistem yang lebih terstruktur dan masuk dalam kebijakan penanggulangan bencana.

Salah satu gagasan yang mengemuka adalah perlunya penguatan mekanisme kebencanaan hingga tingkat gampong, termasuk mendorong regulasi atau resam gampong yang mengatur kesiapsiagaan, pemetaan risiko, jalur evakuasi dan keterlibatan perempuan.

Rakor juga menekankan pentingnya memperkuat relawan perempuan, menyediakan ruang aman dan dukungan psikososial, serta memastikan kebutuhan khusus perempuan, anak, lansia dan penyandang disabilitas diperhatikan dalam penanganan bencana.

Perempuan Harus Terlibat dalam Pemulihan

Balai Syura melihat pengalaman bencana sebagai momentum untuk memperkuat kepemimpinan perempuan di tingkat akar rumput sekaligus memastikan pengalaman dan pengetahuan perempuan tidak hilang setelah masa tanggap darurat berakhir.

“Peran perempuan ketika bencana luar biasa kuat. Tetapi ketika masuk masa rehabilitasi dan rekonstruksi, perempuan justru mulai ditinggalkan,” menjadi salah satu refleksi yang mengemuka dalam Rakor.

Karena itu, Balai Syura bersama Flower Aceh dan jaringan masyarakat sipil mendorong agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh membuka ruang yang lebih besar bagi organisasi perempuan dan kelompok masyarakat yang selama ini bekerja langsung di lapangan.

Selain itu, peserta mendorong adanya review terhadap dokumen perencanaan rehabilitasi-rekonstruksi, penyusunan rencana kontingensi gampong yang responsif gender, penguatan simpul perempuan di tingkat desa, serta dokumentasi pengalaman dan praktik baik perempuan dalam penanganan bencana.

Rakor juga menyepakati sejumlah langkah tindak lanjut, antara lain expert review terhadap dokumen perencanaan, review standar Sphere, penguatan kontingensi di tingkat gampong, serta mengumpulkan pengalaman perempuan dalam merespons bencana untuk didokumentasikan menjadi pengetahuan bersama.

Melalui kerja sama Balai Syura dan Flower Aceh, penguatan agensi perempuan diharapkan tidak berhenti pada respons saat bencana terjadi, tetapi menjadi bagian penting dari kebijakan pengelolaan sumber daya alam, pengurangan risiko bencana, serta proses pemulihan Aceh yang lebih adil, inklusif dan responsif gender.